ILMU

Ilmu itu lebih baik dari pada harta .

PENDIDIKAN

Pendidikan merupakan salah satu cara untuk mencerdaskan manusia .

Pembelajaran

Sebuah pembelajaran perlu adanya perencanaan (RPP).

MOTIVASI

Dalam hidup ini ada kalanya kita akan dituntut untuk mengambil suatu keputusan yang sangat penting.

SERBA SERBI DUNIA

Taukah anda, masih banyak sekali ilmu pengetahuan yang belum kita ketahui di luar sana.

MY BOOK

Salah satu sumber ilmu adalah buku.

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Label:

EVALUASI HASIL BELAJAR

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 1 SEYEGAN
KISI-KISI UJI KOMPETENSI I
TAHUN PELAJARAN 2013-2014

SATUAN PENDIDIKAN    : SMK
MATA PELAJARAN          : Pendidikan Agama Islam
KELAS/SEMESTER           : XII/1
KURIKULUM ACUAN      : KTSP SEKOLAH MENENGAH   KEJURUAN
JUMLAH SOAL                  : 10 (URAIAN)
ALOKASI WAKTU             :90 MENIT

BENTUK SOAL                   : URAIAN

No
Kompetensi Dasar
Indikator
Indikator Soal
No Soal
JumlahSoal
BentukSoal
Kognitif
1.
Membaca QS Al-Kafiruun, QS Yunus: 40-41 dan QS Al-Kahfi: 29
Mampu membaca QS Al-Kafiruun, QS Yunus: 40-41 dan QS Al-Kahfi: 29 dengan baik dan benar kebiasaan untuk menyediakan waktu untuk membaca al-qur’an yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
Siswa mampu memahami QS Al-Kafiruun: 1-6
1
1
Uraian


C1
Siswa dapat menyebutkan arti dari salah satu ayat QS Al-Kafiruun: 4
2
1
Uraian


C2
2
Membiasakan prilaku bertoleransi terkandung dalam QS Al-Kafiruun, QS Yunus 40-41 dan QS Al-Kahfi: 29  
Mmpu menunjukkan prilaku bertoleransi sesuai dengan QS l-Kafiruun, QS Yunus:40-41 dan QS Al-Kahfi: 29
Siswa mampu memahami prinsip-prinsip toleransi
3
1
Uraian


C2
3
Membaca QS Al-Mujadalah: 11dan QS Al-Jumu’ah: 9-10
Mampu menterjemahkan QS Al-Mujadalah: 11 dan QS Al-Jumu’ah: 9-10 perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar,   tugas dan menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya
Mampu memahami QS Al-Mujadalah: 11
4
1
Uraian


    

C2
.
Siswa mampu mengetahui aturan-atuan dalam QS Mujadalah: 11
5
1
Uraian


C4
4
Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan dalam hari akhir
Mampu menjelaskan perilaku yang mencerminkan keimanan terhadap hari akhir. Sikap dan prilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri dan Tuhan Yang Maha Esa
Siswa mampu memahami pembagian-pembagian hari kiamat
6
1
uraian


C2
Siswa mampu mengidentifikasi tanda-tanda hari kiamat
7
1
Uraian


C4
Siswa mampu menyebutkan hikmah dari iman dihari akhir
10
1
Uraian


C3
5
Menjelaskan ketentuan hukum perkawinan dalam islam
Menjelaskan ketentuan hukum islam tentang nikah
Siswa mampu memahami hukum ketentuan nikah
8
1
uraian


C2
Menjelaskan rukun nikah dalam hukum islam
Siswa mampu menyebutkan macam-macam rukun nikah


9
1
Uraian


C2



KepalaSekolah                                                                                 Guru Mata Pelajaran


                                   
DR Arif Budi RaharjoM.Si
                                                                                       MUKHTARUDIN
                                    NBM.                                                                                                                            NIM. 20120720091


0 komentar
Label:

Tulisan bebas

JAWABAN ATAS DUA PERTANYAAN

Pertanyaan: Kebanyakan kan orang kalau ziarah di makam kayak itu nyebar bunga sama baca Yasin atau doa yang lainny di sana. Nah itu bagaimana menurut islam? Dan sebaikny bagaimana?
Terimakasih.
Jawab:

الحمد لله رب العالمين ، و الصلاة و السلام على الرسول الأمين و على آله و أصحابه الطاهرين و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين ، أما بعد :
Permasalalahan semacam itu memang terus hangat diperbincangkan banyak orang dan bisa dibilang sangat sacral menurut pandangan sementara orang-orang di negeri ini. Permasalahan pertama yang ditanyakan, yaitu membaca surat Yasin di kuburan, terhitung sebagai tradisi menjamur di berbagai belahan negeri Islam. Tujuan dibacanya surat Yasin antara lain transfer pahala untuk penghuni kuburan. Padahal transfer pahala merupakan permasalahan yang mengada-ada yang sama sekali tak pernah dituntunkan dalam syariat Islam. Hasilnya, apa yang mereka baca sama sekali tak akan membuahkan pahala, bahkan cenderung dosa. Kenapa? Karena Islam tidak pernah menuntunkannya yang berarti perkara baru dalam agama atau istilah ilmiahnya adalah bid’ah.
Kuburan bukanlah tempat membaca Al-Quran. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah mengatakan, “Kalian jangan menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan yang tak dibacakan Al-Quran. Sebab, setan akan lari menjauhi rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah” (HR Muslim)
Tetang perbuatan bid’ah, beliau menegaskan, “Setiap yang bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya)
Lain daripada itu, transfer pahala untuk orang mati tidak akan pernah sampai.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang tidak akan mendapatkan kecuali apa yang telah ia usahakan.” (QS An-Najm)
Ketika mentafsirkan ayat di atas, Ibnu Katsir membawakan suatu riwayat dari Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i bahwa beliau menjadikan ayat di atas sebagai dalil atas pendapatnya yang mengatakan tidak ada transfer pahala.
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah mengatakan, “Jika anak keturunan Adam (baca: manusia) meninggal, maka amalannya bakal terputus kecuali tiga saja: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan kebaikan untuknya.”
Selain daripada 3 amalan di atas, bisa dipastikan tidak akan pernah sampai pada mayit.
Jika demikian, maka tradisi-tradisi transfer pahala yang kerap diadakan sebagian orang semacam tahlilan, yasinan, gendurian, dan semacamnya termasuk perbuatan yang sia-sia yang tidak saja mendapat kelehtihan semata, namun juga dosa.
Allah Ta’ala pernah mengatakan, “Apakah kamu mau kami beritahu tentang orang-orang yang merugi amalannya? Merekalah orang-orang yang sesat perbuatannya  di dunia sementara mereka menyangka bahwa mereka telah melakukan perbuatan baik.” (QS Al-Kahfi)
Sedangkan bordoa di kuburan, maka perlu dilihat. Jika mendoakan kebaikan untuk si mayit, maka tidak mengapa. Akan tetapi jika berdoa bukan untuk si mayit, seperti untuk dirinya sendiri, tentu tidak pernah ada tuntunan. Bahkan dikhawatirkan akan timbul keyakinan bahwa berdoa di samping kubur lebih mustajab daripada doa di tempat lain. Lebih parahnya, jika nanti kemudian malah doa pada kuburan, tentu lebih berbahaya lagi. Ringkasnya, doa untuk diri sendiri di sisi kubur dinilai sangat berbahaya karena dapat menjadi sebab timbulnya kemusyrikan.
Permasalahan kedua, menabur bunga di pekuburan. Sekarang kita balik pertanyaannya, apa manfaat tabur bunga di pemakaman? Tabur bunga hanya membuang-buang duit. Toh penghuni kubur tak akan dapat manfaat dari bunga yang ditaburkan di atas pusarannya. Sekiranya nominal bunga itu disedekahkan, tentu lebih manfaat.
Kemudian, tabur bunga di pemakaman itu asalnya dari orang-orang kafir. Lihat saja tradisi orang-orang Nasrani, Hindu, Konghucu, dan semisalnya, pasti akan mudah dijumpai kebiasaan itu. Padahal ikut-ikut tradisi orang-orang kafir termasuk tindakan yang dilarang oleh syariat Islam.
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah mengatakan, “Siapa yang menyerupai suatu masyarakat, maka ia termasuk bagian dari mereka.”
Artinya, jika ada orang Muslim yang mengikuti kebiasaan orang kafir, berarti ia bisa ikut kafir pula. Demikian menurut penjelasan sebagian ulama.
Beliau juga mengatakan, “Sungguh kalian nanti bakal akan membeo kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian; sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai-sampai seandainya mereka masuk lubang biawak pun kalian akan mengikuti mereka.”
Mendengar perkataan beliau di atas, orang-orang bertanya, “Apakah mereka (yang dimaksud ‘orang-orang sebelum kalian’-pent)   itu Yahudi dan Nasrani?”
“Siapa lagi?!,” jawab tegas Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
          Adalagi permasalahan yang mirip pertanyaan kedua di atas, yaitu menyiram pusaran dengan air. Menurut pendapat Syafi’iyyah, Hanafiyyah, dan Hanabilah, perbuatan tersebut dianjurkan dengan tujuan agar tanah tidak habis diterjang air. Alasannya karena Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah melakukan perbuatan tersebut pada makam Sa’d bin Mu’adz dan beliau memerintahkan  agar makam ‘Utsman bin Mazh’un diperlakukan sama.
          Bahkan kalangan Syafi’iyyah dan Hanabilah juga berpandangan sunnah pula meletakkan kerikil-kerikil di atas pusaran mengingat riwayat dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, bahwasannya Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah menyiram dan meletakkan kerikil di atas makan puteranya Ibrahim.
          Muhammad Nashiruddin bin Haji Nuh Al-Albani pernah megatakan, “Terdapat banyak hadits tentang menyirami makam dengan air, akan tetapi bermasalah, sebagaimana hal tersebut yang telah saya jelaskan dalam Irwa’ Al-Ghalil. Kemudian saya menjumpai sebuah hadits yang terdapat dalam Al-Mu’jam Al-Ausath karya Ath-Thabrani dengan derajat sanad yang kuat, bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah menyiram makam puteranya Ibrahim, maka aku cantumkan dalam As-Silsilah Ash-Shahihah.”
          Akan tetapi perlu diingat, bahwa alasan mengapa kubur disiram air dan diberi kerikil-kerikil adalah hanya semata-mata agar tanahnya tidak hilang diterpa angin. Ingat, di negeri Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tanahnya adalah pasir yang mudah terbawa angin. Makanya perlu disiram air agar tidak terbawa angin. Adapun di Indonesia, rasanya tidak perlu menyiramkan air ke pusaran, apalagi dengan air kelapa, karena tanahnya yang tahan angin.
          Adapun keyakinan sementara sebagian orang, bahwa mayit memperoleh manfaat dari air yang disiramkan ke makamnya, maka ini keyakinan yang tidak dibenarkan.
          Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan, “Adapun menyiram air di atas makam, bertujuan untuk mengenyalkan tanah, bukan seperti yang disangka orang-orang awam bahwa maksudnya adalah agar mayit merasa dingin. Sebab, mayit tidak bisa dingin karena air, akan tetapi yang dapat mendinginkannya adalah pahalanya. Namun agar tanahnya menjadi kenyal.”
Kiranya jawaban di atas dapat menjadi jawaban atas persoalan yang ditanyakan meski ringkas. Sengaja saya tulis secara ilmiah supaya dapat diketahui bahwa Islam itu bukan agama yang dibantuk berdasarkan akal dan pikiran, namun agama wahyu yang telah ditetapkan oleh Rabbul ‘alamin. Wallahua’lam.

Yogyakarta, 10 Januari 2015
و كتبه الفقير إلى ربه : صاحب الموقع -عفا الله عنه-


0 komentar
Label:

Contoh Recana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Nama Aliyah          : Madrasah Tsanawiyah
Mata Pelajaran        : Qur’an Hadits
Kelas                      : VII
Alokasi Waktu       : 2 x 45 menit (1 x pertemuan)

Ø  Standar Kompetensi
ü  Iman dan Ibadah

Ø  Kompetensi Dasar( KD )
ü  MembacaHadits
ü  Menulishaditsdenganbaikdanbenar
ü  Mengartikanhaditsdengantepat
ü  Menjelaskanisikandunganhadits
Ø  Indikator
ü  Siswa mampu membaca HaditstentangIman dan Ibadahbaikperkatamaupunsegaligus
ü  Siswa mampu menyalin, menulistentangHaditsIman dan Ibadah
ü  Siswa mampumenyebutkanartiHaditsdenganperkatamaupunkeseluruhantentangHaditsIman dan Ibadah
ü  SiswamampumenjelaskankandunganisiHaditstentangHaditsIman dan Ibadah.
Ø  Media yang digunakandalam proses pembelajaran
Guru, siswa, buku,  Al-Qur'an, Power point, papantulis,  danlcd.
Ø  Tujuan Pembelajaran
ü  Melalui membaca, siswa dapat menjelaskan dan memahami makna dari Iman dan Ibadah serta siswa dapat menjelaskan dengan baik dan benar Hadits tentang Iman dan Ibadah.
ü  Melalui diskusi, siswa dapat memahami kandungan dari Hadits yang bersangkutan dengan Iman dan Ibadahserta siswa dapat menerapkan Iman dan Ibadahdalam kehidupan sehari-hari.
Ø  Metode pembelajaran
ü  Tanya jawab
ü  Game dan
ü  Ceramah.
Ø  Langkah – langkah kegiatan pembelajaran
No
Kegiatan
Keterangan
1
Pendahuluan
Guru menjelaskantujuanpembelajaranmateri yang akandisampaikan
Guru membukapembelajarandenganmemberikanpertanyaan yang bersifatumum
2
Inti
Eksplorasi
MencariinformasitentangpengertianIman dan Ibadah
MencariHadits yang berkaitandenganIman dan Ibadah
MencarikandungandariHaditstentangIman dan Ibadah
Mencariinformasidanberdiskusimengenaihadis Iman dan Ibadah
Elaborasi
SiswamenjelaskanpengertianIman dan Ibadah
SiswamembacadanmenulisHaditstentang Iman dan Ibadah
Konfirmasi
Guru menjelaskanhal-hal yang belum di mengertiolehsiswa
Guru dansiswabertanyajawabtentangIman dan Ibadah. Dan guru memberikankesimpulan.
3
Penutup
Guru merumuskankesimpulanpembelajaran
Guru melakukanevaluasipembelajaran
Guru memberikaninformasitentangmateripembelajaran yang akandatang

Ø  Sumber Belajar
Buku Qur’an Hadits Madrasah Tsanawiyah kelas VII yang di terbitkan oleh PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
Ø  Penilaian
Teknik penilaian dilakukan menggunakan tes tertulis, dengan bentuk intrumen pilihan gandadanuraian. (soal evaluasi terlampir).



Ø  Materi Pembelajaran
1.      Pengertian Iman dan Ibadah
Iman itu ialah dipercaya dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. (H.R. Ibnu Majah dari Ali bin Abi Talib No.64)
Iman itu ada tujuh puluh satu cabang. Yang pertama ialah ucapan la ilaha illallah, sedangkan yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari tengah jalan. Adapun malu juga sebagian daripada iman. (H.R Muslim dari Abu Hurairah No.51)
Ø  KomponenIman dan Ibadah
ü  Dipercaya dalam hati,
ü  Diucapkan dengan lisan, dan
ü  Diamalkan dengan perbuatan
Ø  Dasar Hukum Iman dan Ibadah
1.      Al-Qur’an
$pkšr'¯»tƒtûïÏ%©!$#(#qãYtB#uä(#qà)®?$#©!$#¨,ym¾ÏmÏ?$s)è?Ÿwur¨ûèòqèÿsCžwÎ)NçFRr&urtbqßJÎ=ó¡BÇÊÉËÈ
102. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (QS. Ali-imran 102)

2.      Hadis
اَلْاِيْمَانُ مَعْرِفَةٌ بِالْقَلْبِ وَقَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِاْلاَرْكَانِ. (رواه ابن ماجه
عن علي بن ابى طالب)
Iman itu ialah dipercaya dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. (H.R. Ibnu Majah dari Ali bin abi Thalib No. 64)

اَلْاِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبِعُوْنَ شُعْبَةً فَاَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَاِلَهَ اِلاَّ الله ُوَاَدْنَاهَا اِمَاطَةُ اْلاَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلاِيْمَانِ (رواه مسلم عن ابى هريرة)

Iman itu ada tujuh puluh satu cabang. Yang paling utama ialah ucapan laa ilaaha illallaah, sedangkan yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari tengah jalan. Adapun malu juga sebagian dari iman. (H.R. Muslim dari Abu Hurairah No.51)

Ø  Kandungan hadis

Hadis yang pertama, menjelaskan prinsip-prinsip dalam keimanan. Hadis tersebut menjelaskan bahwa iman terdiri atas tiga unsur yakni, diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan. Ketiga unsur tersebut tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. Jika ada salah satu unsur tidak dimiliki seseorang, berarti dia belum menjadi orang yang beriman. Dengan demikian, orang yang beriman didalam hatinya selalu menyakini sepenuh hati, lisannya mengcapkan secara benar, kemudian kenyakinan dan ucapan itu dilampiaskan dalam kehidupan sehari-hari.

Hadis yang kedua, menjelasakan bahwa banyak macam amal yang termasuk bantuan dalam keimanan. Kata tujuh puluh bukan berarti jumlahnya, tetapi menunjukkan bahwa amal itu banyak macamnya. Amalan yang paling utama nilainya ialah ucapan la ilaha illallah. Ucapan ini merupakan puncak keimanan karena pernyataan itu sebagai pengakuan bahwa tidak ada sesembahan yang, kecuali hanya Allah SWT. Adapun perbuatan yang paling kecil ialah menyingkirkan gangguan di jalan.

Ø  Kriteria Iman dan Ibadah

ü  Iman dan ibadah mempunyai kaitan yang sangat erat karena iman menjadi salah satu sarat diterimanya ibadah. Sebaliknya, ibadah yang dilakukan tanpa iman akan sia-sia.

ü  Orang yang mengaku dirinya beriman harus dapat membuktikannya melalui perbuatan yang bernilai ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

ü  Iman tanpa dibuktikan dengan perbuatan nyata berarti kedustaan.

ü  Selain iman, amal amal ibadah harus diniati dengan iklas kepada Allah swt, Ibadah yang dilakukan untuk selain Allah swt, berarti syirik.

ü  Menduakan niat dalam beribadah/beramal karena Allah dan yang lain tidak akan diterima Allah swt.

Ø  Hikmah Iman dan Ibadah

ü  Memiliki rasa senang terhadap hadis-hadis nabi Muhammad saw. Sebagai petunjuk hidupnya;

ü  Gemar mempelajari hadis-hadis dalam rangka memahami ajaran Islam;

ü  Menyakini kebenaran ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad saw. Melalui hadis-hadis beliau;

ü  Melaksanakan ajaran-ajaran yang terdapat dalam hadis Nabi Muhammad saw. Dalam kehidupan;

ü  Berusaha meningkatkan mutu amal agar Allah swt. Berkenaan menerimanya sebagai bentuk ibadah dan amal saleh;

ü  Meninggkatkan keimanan dan tidak menyekutukan Allah swt. Dengan sesuatu pu;

ü  Memurnikan niat dalam segala ibadah hanya untuk mendapatkan rida Allah swt.

0 komentar